Rabu, 08 Juni 2011

Keterampilan Variasi


KETERAMPILAN MENGADAKAN VARIASI

A.  PENGERTIAN
Jika berbicara mengenai pendidikan tentu tidak mungkin akan terpisah dari proses belajar mengajar. Didalamnya dilakukan suatu proses yang kompleks dimana yang satu dengan yang lain saling berhubungan, pembelajaran juga harus dilakukan dengan menyenangkan sehingga belajar maupun mengajar dapat dilaksanakan dan tujuan pembelajaran pun dapat tersampaikan secara efektif dan efisien.
Belajar adalah proses perubahan prilaku[1]. Sedangkan mengajar adalah suatu sistem yang kompleks dan integratif dari sejumlah keterampilan untuk menyampaikan pesan kepada seseorang. Mengajar dikatakan sistem yang kompleks karena dalam mengajar guru tidak hanya sekedar memberi informasi secara lisan kepada siswa akan tetapi dalam mengajar guru harus dapat menciptakan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa dapat aktif dalam mengikuti pelajaran, sehingga guru harus dapat melibatkan beberapa komponen dan kompetensi interaksi belajar-mengajar.
Oleh sebab itu untuk dapat menciptakan pembelajaran yang aktif, dan menyenangkan maka diperlukan berbagai keterampilan dalam mengajar. Salah satu keterampilannya adalah Keterampilan Mengadakan Variasi.
Menurut Mulyasa, Keterampilan mengadakan variasi adalah perubahan dalam proses kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik, serta mengurangi kejenuhan dan kebosanan[2]. Pemberian variasi dalam interaksi belajar-mengajar dapat diartikan sebagai perubahan pengajaran dari yang satu ke yang lain, dengan tujuan untuk menghilangkan kebosanan dan kejenuhan siswa dalam menerima bahan pengajaran yang diberikan guru[3].
 Sedangkan pendapat lain menyebutkan “menggunakan variasi diartikan sebagai perbuatan guru dalam konteks proses belajar-mengajar yang bertujuan mengatasi kebosanan siswa, sehingga dalam proses belajarnya siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, keantusiasan, serta berperan serta secara aktif” [4].
Jadi, keterampilan mengadakan variasi adalah suatu keterampilan yang digunakan oleh seorang guru untuk mengadakan perubahan-perubahan dalam proses belajar-mengajar agar selama pembelajaran berlangsung siswa tidak merasa bosan atau jenuh melainkan siswa dapat berperan aktif didalamnya. Atau keanekaan yang membuat pembelajaran tidak monoton.
Variasi di dalam kegiatan pembelajaran bertujuan antara lain untuk [5]:
1.    Menghilangkan kebosanan siswa dalam belajar,
2.    Meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari sesuatu,
3.    Mengembangkan keinginan siswa untuk mengetahui dan menyelidiki hal-hal baru,
4.    Melayani gaya belajar siswa yang beranekaragam,
5.    Meningkatkan kadar keaktifan/keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.

Selain tujuan, pemberian variasi yang tepat dalam proses belajar-mengajar akan dapat memberi manfaat bagi siswa, yaitu[6] :
1.    Dapat menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa terhadap materi yang diberikan padanya,
2.    Dapat memberi kesempatan berkembangnya bakat ingin mengetahui dan menyelidiki dari siswa tentang hal-hal yang baru,
3.    Dapat memberi motivasi kepada siswa untuk memusatkan perhatiannya pada proses belajar-mengajar,
4.    Dapat meningkatkan kadar cara belajar siswa aktif (CBSA),
5.    Dapat menghindarkan kebosanan siswa dalam belajar,
6.    Dapat mendorong anak untuk mengadakan diskusi dengan temannya.

Dengan tujuan dan manfaat diatas, dapat dilihat betapa pentingnya keterampilan mengadakan variasi bagi seorang guru. Variasi dilakukan agar pembelajaran tidak monoton. Dengan variasi yang diadakan bukan saja siswanya memperoleh kepuasan belajar, tetapi guru pun akan memperoleh kepuasan dalam mengajar. Oleh karena itu, seorang guru harus mampu melaksanakan keterampilan mengadakan variasi dalam pelajaran yang dikelolanya sehingga pembelajaran serta tujuan pembelajaran pun dapat tercapai dengan efektif dan efisien.

B.  KOMPONEN-KOMPONEN KETERAMPILAN MENGADAKAN VARIASI
Pada dasarnya, variasi dalam dalam kegiatan pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yakni :
1.    Variasi dalam Gaya mengajar
Dalam proses belajar-mengajar tentu seorang guru tidak hanya terpaku dengan satu gaya mengajarnya, agar tidak terjadi kebosanan anak dalam belajar. Biasanya gaya mengajar seorang guru sering dikaitkan dengan kepribadian guru tersebut, sehingga sering terdengar diantara para siswa bahwa guru A selalu duduk ketika berbicara, guru B sering marah-marah, guru C suka bergurau, dan sebagainya.
Dalam memberikan variasi gaya mengajar ini guru dapat melakukan dengan cara variasi dalam suara, pemberian kesenyapan , variasi dalam gerakan badan dan mimik, variasi dalam pergantian posisi dalam kelas, dan variasi dalam pemberian penguatan.
a.   Variasi Suara (Teacher voice)
Suara guru dapat dikatakan merupakan faktor yang sangat penting didalam kelas, karena sebagian besar kegiatan di kelas akan bersumber dari hal-hal yang disampaikan guru secara lisan. Suara guru dalam mengajar hendaknya tidak selalu sama dari awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran. Harus ada variasi penekanan suaranya agar siswa dapat mengerti dengan penjelasan guru terutama pada point-point penting yang harus ditegaskan guru, dan agar siswa tidak merasa bosan dengan gaya suara yang tidak bervariasi.
Variasi dalam mengajar berupa : perubahan suara keras menjadi lemah, dari tinggi menjadi rendah, dari cepat menjadi lambat, memberi tekanan tertentu dengan suara lambat-lambat. Semua perubahan itu hendaknya disesuaikan dengan kondisi lingkungan belajar siswa.

b.    Pemusatan Perhatian (Focusing)
Dalam mengajar, guru sering menginginkan agar siswa memperhatikan butir-butir penting yang sedang disampaikan. Pemusatan perhatian ini dapat dilakukan secara verbal, isyarat ataupun dengan menggunakan model.
Contohnya : Dalam pembelajaran guru membawa atau menggunakan media, dengan media yang digunakan tersebut maka secara tidak langsung siswa-siswa akan memperhatikan guru dan penasaran dengan media yang dibawa oleh guru tadi. Jika media digunakan oleh guru pada kegiatan inti maka selama kegiatan awal berlangsung siswa akan memperhatikan guru dengan seksama agar semua perintah-perintah tentang pembelajaran dapat dijalankan dengan baik dan tentu siswanya akan lebih aktif dan antusias dalam belajar. Selain itu, Juga dapat dengan berkata “Perhatikan ini baik-baik”, atau “Nah, ini penting Sekali”, atau “Perhatikan dengan baik ini sangat sukar dimengerti”.

c.    Kesenyapan (Teacher silence)
Dalam proses belajar-mengajar ada kalanya seorang guru perlu mengubah situasi menjadi senyap (diam) sejenak. Hal ini bertujuan untuk menarik/meminta perhatian siswa, sehingga dapat menambah semangat belajar siswa. Karena pada kenyataannya semakin lama siswa medengarkan ceramah guru maka perhatiannya terhadap pelajaran semakin berkurang/menurun. Untuk itu pada saat-saat tertentu hendaknya guru dapat melakukan kesenyapan sejenak agar siswa dapat berminat kembali dengan apa yang guru jelaskan. Diagram berikut ini menggambarkan perhatian siswa terhadap pelajaran yang disampaikan oleh guru.
A
                                                                     Ket : A = Tingkat perhatian
                                                                              B = Waktu








 

                                          Istirahat


                                                                                             B

Kesenyapan dapat pula dimunculkan ketika guru mengajukan pertanyaan dengan tujuan memberi waktu berpikir kepada siswa. Setelah diam beberapa saat, barulah guru menunjuk siswa yang akan diminta menjawab pertanyaan tersebut.
Selain itu, ada kalanya kesenyapan dilakukan bila guru akan berpindah dari segmen mengajar satu kesegmen yang lain. Hal ini dilakukan tujuannya adalah untuk memberi kesempatan kepada siswa untuk mengendapkan pelajaran yang baru saja dilaksanakan/diperoleh sebelum pindah kesegmen berikutnya.
                                                                                               
d.    Mengadakan Kontak Pandang (Eye contant)
Dalam mengadakan proses belajar-mengajar terkadang seorang guru sering lupa atau malu untuk memandang siswa-siswanya secara langsung. Padahal hal ini sangat penting dilakukan oleh seorang guru agar guru tersebut dapat mengetahui situasi/suasana belajar siswa, apakah siswa-siswa ini sedang semangat belajar atau siswa-siswa ini sedang tidak memiliki minat untuk belajar Selain itu dengan memandang langsung guru dapat mengetahui sejauhmana pemahaman siswa terhadap pelajaran yang sedang berlangsung. Oleh sebab itu kontak pandang harus dilakukan seorang guru pada siswanya selama pembelajaran berlangsung, agar adanya komunikasi dan interaksi dalam belajar.
Kontak pandang dengan seluruh siswa merupakan senjata ampuh bagi seorang guru dalam mengajar. Seperti ungkapan kuno mengatakan “sapalah semua siswa dengan pandanganmu“ dan ungkapan ini masih sangat menunjukkan keampuhannya sampai saat ini.

e.    Mimik dan Gerakan Badan
Mimik dan gerakan badan merupakan alat komunikasi yang efektif[7]. Menurut Sardiman gerakan yang baik adalah gerakan yang efektif dan efisien, artinya gerakan yang cukup tetapi benar-benar mendukung penjelasan atau uraian guru[8]. Mimik dan gerakan badan guru hendaknya selalu mengalami variasi dalam proses belajar-mengajar karena disamping menarik perhatian siswa juga dapat diartikan sebagai maksud dari pesan-pesan tertentu. Dengan menggunakan mimik dan gerakan badan ini lebih efektif digunakan dari pada dengan menggunakan bahasa yang bertele-tele. Mimik dan gerakan badan harus dilakukan sesuai dengan pembawaan guru sendiri, tujuan yang ingin disampaikan, serta latar belakang sosial budaya didaerah masing-masing[9].
Mimik dan gerakan badan yang dapat divariasikan antara lain :
v  Ekspresi Wajah
è Dalam pembelajaran mimik/ekspresi wajah, seorang guru jangan melakukan ekspresi tersebut setengah-setengah atau terlalu over akting karena itu akan membuat bingung siswa-siswanya. Jadi ekspresi wajah ini harus dilakukan dengan yakin dan sungguh-sungguh, agar apa yang guru sampaikan dapat ditangkap maknanya oleh siswa. Perubahan pada ekspresi wajah yaitu seperti: tersenyum, menggerutkan kening, mengangkat alis, cemberut, dan tertawa untuk menunjukkan kagum, tercengang, atau heran[10].

v  Gerakan Kepala
è Dalam proses pembelajaran tentu seorang guru harus dapat memberikan gerakan-gerakan tertentu pada daerah kepala, seperti melakukan gerakan dengan menggeleng, mengangguk, tegak/mengangkat kepala, menunduk. Gerakan ini dilakukan untuk menunjukkan setuju atau sebaliknya dan gerakan ini dilakukan agar ada variasi yang terjadi selama proses pembelajaran.

v  Gerakan Tangan
è  Gerakan tangan, juga termasuk variasi dalam gaya mengajar. Gerakan tangan sama fungsinya dengan yang lain yaitu untuk menegaskan suatu point-point penting dalam pembahasan yang diajarkan oleh guru. Selain itu gerakan tangan juga dapat digunakan untuk menunjukkan suatu pujian terhadap keberhasilan siswa. Gerakan tangan dapat berupa mengangkat tangan, mengacungkan jempol, mengepalkan tinju untuk menegaskan, bertepuk tangan. Akan tetapi dalam menggunakan gerakan tangan guru harus berhati-hati agar apa yang digunakan tidak menyalahi aturan daerah setempat. Contohnya : Guru mengatakan bumi itu bulat sambil membuat gerakan dengan kedua tangan yang menggambarkan bentuk bulat.

v  Gerakan Badan Secara Keseluruhan
è  Gerakan badan secara keseluruhan merupakan suatu variasi dalam pembelajaran. Dimana sebaiknya sebagai seorang guru variasi ini dilakukan agar pembelajaran tidak monoton. Variasi gerakan badan secara keseluruhan berupa berdiri kaku, bersikap santai, gerak mendekati atau menjauhi. Contohnya : jika dalam mengajar tentu seorang guru tidak hanya duduk saja dibelakang meja, melainkan adakalanya berdiri dengan kaku/tegap didepan siswa-siswanya, kemudian adakalanya berdiri dengan cara yang santai dan adakalanya guru mendekati tempat duduk siswa.

f.     Perubahan Dalam Posisi Guru
Posisi guru ketika mengajar didalam kelas juga berpengaruh kepada kegairahan siswa belajar. Sehingga pergantian posisi guru diwaktu mengajar juga sangat perlu diadakan variasi. Kalau guru dalam mengajar dari awal hingga akhir hanya duduk-duduk saja maka siswa biasanya akan merasa bosan dengan penjelasan guru, sehingga dengan sendirinya minat belajar pun akan menurun. Dan pada akhirnya tujuan pembelajaran tidak dapat terpacai dengan efektif dan efisien.
Demikian juga sebaliknya jika guru yang hanya menjelaskan dengan berdiri saja didepan kelas seperti orang khutbah jum’at, dari awal hingga akhir maka hal ini pun akan mendatangkan kebosanan belajar siswa. Untuk itu maka posisi guru selama pelaksanakan proses belajar-mengajar hendaknya dapat divariasikan agar siswa dapat lebih berantusias dalam mengikuti pelajaran.
Variasi dalam posisi guru didalam kelas dapat dilakukan dengan cara kebelakang, kekiri, kekanan, berdiri, duduk, mendekati siswa dan sebagainya. Semua variasi ini dilakukan dengan maksud-maksud tertentu yang disesuaikan dengan situasi pada waktu itu, dan hendaknya variasi ini dilakukan secara wajar tidak berlebihan.

2.    Variasi dalam Penggunaan media
Media pengajaran merupakan suatu faktor penting dalam pembelajaran. Konsep yang sukar dan membosankan untuk disimak menjadi menarik jika disajikan dengan menggunakan media dan alat yang tepat. Pergantian pengunaan jenis media yang satu kepada jenis media yang lain mengharuskan anak menyesuaikan alat inderanya sehingga dapat mempertinggi perhatiannya karena setiap anak mempunyai perbedaan kemampuan dalam menggunakan alat indera. Ada yang termasuk tipe visual, auditif, dan motorik. Penggunaan alat yang multimedia dan relevan dengan tujuan pengajaran dapat meningkatkan hasil belajar sehingga lebih bermakna dan tahan lama. Media pengajaran dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan yaitu didengar, dilihat dan diraba.
a.    Variasi media yang dapat dilihat
Penggunaan media yang dapat dilihat merupakan variasi yang kaya dan dapat meningkatkan minat dan perhatian siswa pada kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung.
Variasi media pengajaran yang tergolong dalam kelompok ini sangat beragam, seperti gambar-gambar, diagram, grafik, papan bulletin, slide, ukiran, peta, yang semuanya dapat dipakai guru sesuai dengan topik yang sedang dibahas, karakteristik siswa, tujuan pengajaran, ketersediaan media tersebut, serta yang tak kalah pentingnya, kemampuan guru dalam menggunakannya.

b.    Variasi media yang dapat didengar
Pada umumnya, media pengajaran yang dapat didengar dapat mendominasi kelas. Oleh karena itu, suara guru harus cukup mampu manarik perhatian siswa. Guru harus mampu memvariasikan suaranya, dari tinggi kerendah, besar kekecil, sedih kegembira, keras kelembut, atau dari cepat kelambat. Guru dapat pula menggunakan berbagai variasi media yang dapat didengar seperti rekaman suara binatang, pidato, atau suara tokoh-tokoh terkemuka.
Variasi dapat pula dibuat dengan meminta siswa membacakan puisi atau wacana tertentu dan bahkan dapat mengundang nara sumber untuk berbicara didepan kelas.

c.    Variasi media yang dapat diraba dan dimanipulasi
Media pembelajaran bukan saja dapat dilihat dan didengar, melainkan juga dapat diraba atau dimanipulasi. Yang tergolong kedalam media yang dapat diraba dan dimanipulasi ini antara lain : model, binatang kecil yang hidup, patung, alat mainan, atau alat-alat laboratorium. Penggunaan alat yang termasuk kedalam jenis ini akan dapat menarik perhatian siswa dan dapat melibatkan siswa dalam membentuk dan memperagakan kegiatannya, baik secara perseorangan ataupun secara kelompok. Penggunaan alat secara tepat akan dapat menumbuhkan dan memelihara minat siswa dalam belajar, agar kegiatan pembelajaran akan menjadi lebih efektif.

3.    Variasi dalam Pola interaksi dan kegiatan siswa
Dalam proses belajar-mengajar kadangkala pihak guru lebih mendominasi selama pembelajaran berlangsung, dan terkadang pula malah pihak siswa yang hanya belajar sendiri tanpa dikontrol oleh guru. Hal ini tentu tidak akan menjalin komunikasi yang baik antara guru dan siswa. Dimana masing-masing pihak tidak bisa melakukan interaksi dengan baik. Jika hal itu terjadi maka tujuan pembelajaran pun tidak akan tercapai.
Penggunaan variasi pola interaksi dimaksudkan agar tidak menimbulkan kebosanan, kejemuan, serta untuk menghidupkan suasana kelas demi keberhasilan murid dalam mencapai tujuan. Adapun jenis pola interaksi dapat digambarkan sebagai berikut[11] :
a.    Pola Guru - Siswa
             G                          Komunikasi sebagai aksi (satu arah), guru sebagai teacher center, dan siswa hanya menerima pelajaran tersebut.
        S           S       S


b.   Pola guru – Siswa - Guru
                       G                      Ada balikan bagi guru, tidak ada interaksi antar siswa (komunikasi sebagai interaksi)                                

      S                S             S

c.   Pola guru – Siswa – Siswa
                        G                     Ada balikan bagi guru dari siswa-siswanya, kemudian diantara siswa saling belajar satu sama lain.
         S           S           S   

d.   Pola guru – siswa, Siswa – guru, Siswa – siswa
                       G                      Interaksi optimal antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa (komunikasi sebagai transaksi, multiarah).
S                                    S
      
       S                    S

e.   Pola melingkar
                       G                      Setiap siswa mendapat giliran untuk mengemukakan sambutan atau jawaban, tidak diperkenankan berbicara dua kali apabila setiap siswa belum mendapat giliran.
              S       S      S

Jika dilihat dari pengorganisasian siswa, pola interaksi dapat dibedakan menjadi 4, yaitu[12] :
a.    Kegiatan klasikal
1      Mendengarkan informasi dan Tanya jawab/diskusi secara klasikal,
2)    Demonstrasi oleh guru atau siswa tentang satu keterampilan atau percobaan,
3)    Menyeleksi tanyangan film, video, atau permainan peran, yang kemudian diikuti oleh diskusi atau tugas-tugas lain.

b.    Kegiatan kelompok kecil
1)    Mendiskusikan pemecahan suatu masalah,
2)    Menyelesaikan suatu proyek, misalnya laporan tentang suatu kegiatan,
3)    Melakukan suatu percobaan/observasi,
4)    Melakukan latihan suatu keterampilan.

c.    Kegiatan berpasangan
1)    Merundingkan jawaban pertanyaan yang diajukan secara klasikal,
2)    Latihan menggunakan media tertentu.

d.    Kegiatan perorangan
1)    Membaca atau menelaah suatu materi,
2)    Mengerjakan tugas-tugas individual, seperti mengerjakan soal-soal dari materi yang dipelajari,
3)    Melakukan observasi,
4)    Melakukan percobaan.

Dari contoh kegiatan siswa diatas, tentu dapat diperkaya sesuai dengan wawasan dan pengalaman masing-masing. Yang jelas, variasi pola interaksi dan kegiatan siswa sangat kaya dan beragam. Pola interaksi dapat diubah dari interaksi satu arah (guru kesiswa) keinteraksi dua arah sampai kesemua arah (siswa kesiswa-siswa keguru dan seterusnya), baik dengan pembelajaran yang klasikal, kelompok, berpasangan maupun individu.

C.  PRINSIP PENGGUNAAN
Agar variasi dapat berfungsi secara efektif, guru perlu memperhatikan prinsip penggunaan sebagai berikut :
1.    Variasi yang dibuat harus mengandung maksud tertentu, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, karakteristik kemampuan siswa, latar belakang sosial budaya, materi yang sedang disajikan, serta kemampuan guru menciptakan variasi tersebut.
2.    Variasi harus terjadi secara wajar, tidak berlebihan, sehingga tidak mengganggu terjadinya proses belajar.
3.    Variasi harus berlangsung secara lancar dan berkesinambungan, hingga tidak merusak suasana kelas, dan tidak mengganggu jalannya kegiatan belajar.
4.    Komponen-komponen variasi yang memerlukan pengorganisasian dan perencanaan yang baik perlu dirancang secara cermat dan dicantumkan dalam satuan pelajaran atau RPP. Selain itu, perubahan komponen keterampilan tersebut dapat dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

Menurut Hasibuan dan Moedjiono[13], prinsip-prinsip yang perlu dipahami adalah :
·         Perubahan yang digunakan harus bersifat efektif,
·         Penggunaan teknik variasi harus lancar dan tepat,
·         Penggunaan komponen-komponen variasi harus benar-benar tersruktur direncanakan sebelumnya,
·         Penggunaan komponen variasi harus luwes dan spontan berdasarkan balikan  siswa.













FORMAT KETERAMPILAN MENGADAKAN VARIASI

FORMAT MONITORING PELAKSANAAN
KETERAMPILAN MENGADAKAN VARIASI


NAMA                  :                                                  HARI/TANGGAL :  
BIDANG STUDI   :                                                  SEKOLAH           :                               
HARI/TANGGAL :                                                  SEMESTER         :                           

NO

Kegiatan Variasi pembelajaran
Nilai penggunaan variasi

1

2

3

4
1.  Variasi dalam gaya mengajar
a.     Suara
b.    Mimik dan gerak
c.     Kesenyapan
d.    Kontak pandang
e.     Perubahan posisi
f.     Memusatkan




2. Variasi penggunaan media pengajaran
a.     Variasi Visual
b.    Variasi aural
c.     Variasi yang dapat diraba dan dimanipulasi




3. Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa
a. penggunaan pola interaksi






Ket :     1    =    kurang                                                     Pengamat,
            2    =    cukup
            3    =    baik
            4    =    sangat baik.                                         . . . . . . . . . . . . . .

 



       [1]J.T. Lobby Loekmono, Belajar Bagaimana Belajar, (Gunung Mulia, Jakarta1994) hal.16.
       [2]E.Mulyasa, Menjadi Guru Profesional : Menciptakan pembelajaran Yang kreatif Dan Menyenangkan, (Remaja Rosdakarya, Bandung, 2008) hal.78.
       [3]Soetomo, Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar, (Usaha Nasional, Surabaya, 1993) hal.100.
       [4]J.j. Hasibuan dan Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, (Remaja Rosdakarya, Bandung, 2009) hal.64.
       [5]Udin S.Winataputra, Strategi Belajar-mengajar, (Universitas terbuka, Jakarta, 2002) hal.7.46.
       [6]Soetomo, Op. Cit. hal.101.
       [7] Udin S.Winataputra, Op. Cit.  hal.7.49.
       [8]Sardiman, Interaksi Dan Motivasi belajar-mengajar, (Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004) hal.201.
       [9]IGAK Wardani, Keterampilan Dasar Tutorial, (Universitas Terbuka, Jakarta, 1999), hal.3.
       [10]Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional. (PT. Remaja Rosdakarya, Bandung,2009) hal.85.
       [11]Ibid., hal.87-88
       [12] Ibid., hal.7.50 - 7.51  
       [13] J.j. Hasibuan dan Moedjiono, Op. Cit., hal. 66

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar